MEMBANGUN PERADABAN BANGSA
DENGAN KEBUDAYAAN
Semboyan “berbeda-beda tetapi satu “ (bhinneka tunggal ika) tidak lagi ramai dank eras disuarakan akhr-akhir ini, tetapi semboyan itu menyiksakan banyak cerita tentang bagaimana kebudayaan diperlakukan selama kurang lebih setengah abad. Istilah bhinneka tunggal ika tidak menunjukkan adanya suatu tujuan untuk mencapai suatu tatanan masyarakat yang menyatu. Perubahan budaya yang terjadi selama setengah abad ini sesungguhnya telah membawa masyarakat kea rah fragmentasi dan kohesi sekaligus.
Arti sebuah Kebudayaan
James Fox (1996) menulis dalam bukunya berjudul: Panen Lontar bercerita banyak yentang kebudayan orang Rote dan Sawu di NTT, terutama tentang panen lontar. Mula-mula pohon itu menghasilan serangkaian makanan dan minuman : tuak (nira lontar), gula air (sirup lontar), gula lempeng (gula lontar), laru (tuak lontar) dan sopi (arak lontar). Pengolahan dan penyadapan lontar, keduanya merupakan jaminan bagi orang Rote dalam menghadapi kelaparan. Pada waktu panen gagal mereka kembali meramu dan hidup dari hasil-hasil pohon lontar. Pada waktu yang baik hasil itu disebut sebagai makanan tambahan. Rata-rata orang Rote dewasa membutuhkan cukup banyak sirup lontar dan laru. Delapan sampai sepuluh tuak atau “laru” sehari sudah biasa. Bahkan orang Rote yang hidup di kota melanjutkan kebiasaan ini.
Di samping makanan dan minuman maka lontar menghasilkan bahan baku untuk bermacam-macam kebutuhan. Hampir setiap barang yang dipakai dalam rumah tangga masyarakat Rote dan Sabu dibuat dari pohon lontar. Akhirnya pohon lontar menjadi tanaman perdagangan. Penjualan hasil-hasil pohon lontar, merupakan tambahan yang disambut dengan senang hati untuk anggaran oranng Rote. Telah bertahun-tahun, hasil pohon lontar, terutama sirup dan gula diekspor ke pulau-pulau sekitarnya. Dari cerita di atas pohon lontar merupakan “pohon kebudayaan” bagi orang Rote dan Sabu. Gambaran ringkas tentang orang Rote dan Sabu di atas menunjukkan bahwa setiap manusia hidup dalam kebudayaan. Dengan kebudayaan kita dapat mengenal kehidupan manusia, cara-cara kelompok manusia menyusun pengetahuan, menampilkan perasaan dan cara mereka yang merupakan salah satu unsure pembentuk peradaban suatu bangsa.
Pengertian Kebudayaan
Pengertian paling tua atas kebudayaan diajukan oleh Edward Burnett Tylor dalam karya berjudul Primitive Culture, bahwa kebudayaan adalah kompleks dari keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hokum, adatistiadat dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Atau seprti kata Hebding dan Glick (1992) bahwa kebudayaan dapat dilihat secara material maupun non material. Kebudayaan material tampil dalam objek material yang dihasilkan, kemudian digunakan oleh manusia. Misalnya: dari alat-alat yang sederhana seperti perhiasan tangan, leher dan telinga, alat rumah tangga, pakaian system computer, desain arsitektur, mesin otomotif, hingga instrument untuk penyelidikan besar seperti satelit, pesawat luar angkasa, dan kapal selam. Sebaliknya budaya non material adalah unsure-unsur yang dimaksudkan dalam konsep norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan/ keyakinan serta bahasa.
Potensi Indonesia
Indonesia merupakan bangsa yang besar. Kebesaran bangsa Indonesia tidak hanya dilihat dari jumlah penduduknya yang mencapai 250 juta jiwa - yang membuat Indonesia menempati peringkat jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia - tetapi juga kemajemukan budayanya. Kemajemukan budaya tersebut diperlihatkan antara lain dengan terdapatnya 495 suku atau etnis dan 567 bahasa lokal atau dialek yang tersebar di Indonesia (KBRI Beijing).
Kemajemukan budaya yang ada merupakan keunggulan yang dimiliki Indonesia, namun dapat pula memicu konflik apabila tidak disikapi dengan bijak. Untuk menghindari potensi konflik yang terkandung dalam kemajemukan budaya diperlukan modal sosial untuk membangun kohesivitas (persatuan) bangsa. Modal sosial dapat didefinisikan sebagai norma informal yang dapat mendorong kerjasama antar anggota masyarakat (Francis Fukuyama). Dalam kehidupan sehari-hari, modal sosial juga tampak dari suasana saling percaya antar warga masyarakat. Gotong royong merupakan salah satu modal sosial yang menjadi corak kepribadian Indonesia (Soekarno).
Sejarah telah menuliskan bagaimana bangsa yang heterogen ini pada akhirnya muwujudkan persatuan untuk berjuang dalam menghadapi musuh bersama (penjajah) dan mencapai cita-cita bersama (kemerdekaan). Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 merupakan buah perjuangan yang diperoleh dengan persatuan. Dengan demikian momen tersebut telah menutup fase liberation serta membuka fase berikutnya, yaitu fase nation and character building (Soekarno). Namun, tantangan yang dihadapi pada fase kedua jauh lebih sulit daripada fase pertama. Untuk menghadapi tantangan tersebut bangsa Indonesia dituntut untuk tetap membangun dan menjaga kohesivitas serta tanggap terhadap perubahan yang terjadi di dunia (Prof. I Dewa Gede Raka).
Jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, menurut buku World in Figure 2003 yang diterbitkan oleh The Economist, USA, prestasi kekayaan alam Indonesia antara lain ; Penghasil biji-bijian terbesar nomor 6, Penghasil teh terbesar nomor 6, Penghasil kopi nomor 4, Penghasil cokelat nomor 3, Penghasil minyak sawit (CPO) nomor 2, Penghasil lada putih nomor 1 dan lada hitam nomor 2 , Penghasil puli dari buah pala nomor 1, Penghasil karet alam nomor 2 dan karet sintetik nomor 4, Penghasil kayu lapis nomor 1, Penghasil ikan nomor 6, Penghasil timah nomor 2, Penghasil batu bara nomor 9, Penghasil tembaga nomor 3, Penghasil minyak bumi nomor 11, Penghasil gas alam nomor 6 dan LNG nomor 1, Penghasil emas nomor 8 dan bahan tambang lainnya.
Selain itu, analisa Visi Indonesia 2030 yang disusun oleh Yayasan Indonesia Forum menyatakan bahwa Indonesia juga memiliki keunggulan posisi geografis. Posisi Indonesia terletak di jantung kawasan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia yang mencakup Asia Timur, Asia Selatan, dan Australia-Selandia Baru. Bentang daratan dan lautan yang luas di daerah tropis, fluktuasi musim yang rendah, serta kesuburan tanah dan keragaman hayati yang dimiliki, merupakan potensi kekayaan alam Indonesia yang besar.
Keadaan politik di Indonesia pun bisa dikatakan semakin stabil. Adanya pemilihan kepala daerah maupun presiden secara langsung memberikan suatu bentu reformasi politik yang lebih baik untuk Indonesia. Kebebasan pers yang baik dapat memberikan kebebasan mengkritik dan pers bisa dikatakan telah menjalankan perannya sebagai penyampai informasi kepada masayarakat serta guardian of government dalam hal kebijakan. Karena bagaimana pun pers dan media bisa memainkan peranannya dalam mensukseskan kebijakan pemerintah. Selain itu adanya lembaga penegakkan hukum khususnya pemberantasan korupsi juga telah membuat suatu nuansa anti-korupsi di Indonesia. Para koruptor butuh berpikir berulang kali sebelum melakukan korupsi.
Tantangan dalam Perkembangan Budaya Bangsa Indonesia
Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui informasi. Dengan adanya teknologi internet dan jaringan telekomunikasi nirkabel, manusia semakin mudah untuk berhubungan satu sama lain. Seperti tidak ada jarak yang memisahkan seorang di eropa dengan seorang di Indonesia. Semua berkembang begitu cepat dan distribusi informasi seperti tidak terbatas. Globalisasi berpengaruh terhadap budaya bangsa karena batas-batas suatu bangsa menjadi kabur sehingga semua arus infofmasi, teknologi dan kebudayaan seakan-akan bebas keluar masuk ke suatu Negara. Hai itu memungkinkan untuk terjadinya pepecahan bangsa.
Globalisasi informasi memberikan suatu dampak yang sangat besar untuk budaya di Indonesia. Bergesernya minat generasi muda terhadap kesenian tradisional, penggunaan bahasa daerah yang semakin jarang ditemui serta perubahan kebiasaan yang sebenarnya bertentangan dengan budaya Indonesia. Seperti budaya sopan santun, menghormati yang lebih tua dan budaya gotong royong. Arus informasi besar-besaran ( dan tidak terkatrol arus masuknya ) memberikan sebuah culture shock (kekacauan budaya yang dalam perspektif sosial merupakan hasil dari konfrontasi suatu masyarakat terhadap kebudayaan baru yang mendadak masuk dan mengganggu kebudayaan mereka) kepada masyarakat Indonesia.
Hal ini seakan-akan menjadikan Indonesia yang kaya akan budaya menjadi kehilangan budayanya. Potensi budaya yang menjadi karakter bangsa semakin tergiris oleh budaya asing. Padahal kita bisa membangun karakter bangsa dengan potensi multikultur dan multietnik, seperti karakter santun suku sunda, karakter merantau suku minang, karakter tegas suku batak dan lainnya.
Potensi Mahaiswa
Menyadari peran, posisi dan fungsi mahasiswa menjadi sebuah tuntutan mendasar, karena bagaimana mungkin mahasiswa menjalankan perannya dengan baik jika ia tidak pernah mengetahui potensi apa yang dimiliki serta tanggung jawab besar apa yang harus dipikul olehnya di masa kini dan masa mendatang. Pembelajaran yang terus menerus, meningkatkan kapasitas diri serta membangun integritas akademik merupakan langkah-langkah yang bisa dilakukan mahasiswa untuk mewujudkan perannya sebagai pemimpin masa depan bangsa ini untuk membangun peradaban bangsa yang maju. Meski mungkin perlu disayangkan, hanya sedikit mahasiswa yang memahami tanggung jawab besar dibalik potensi besar yang dimilikinya. Sehingga dampak dari keberadaan 3 juta mahasiswa di Indonesia bisa dikatakan belum terasa. Banyak potensi mahasiswa yang belum mereka gunakan untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia.
Peran Mahasiswa dalam Melestarikan Kebudayaan Bangsa
Mahasiswa merupakan kaum inelektual bangsa yang memiliki pengetahuan dan kemampuan di bidangnya masing-masing. Mahasiswa adalah generasi muda yang cerdas yang telah terpilih melalui suatu proses penyaringan yang ketat. Mereka adalah iron stock bangsa dan negara dimasa depan sebagaimana jargon mereka yang terkenal: Student now leader tomorrow. Karena pendidikan bukan sekedar pengasahan ketajaman intelektualitas, tetapi juga merupakan sebuah proses pembinaan kepribadian, pendewasaan, proses pematangan emosi dan sikap.
Semangat yang dibangun di mahasiswa yang bisa menjadi gaya hidup dalam melakukan segala kegiatan adalah semangat moralitas, inovasi, kreatifitas, berpartisipasi aktif, apresiasi dan kolaborasi. Saatnya mahasiswa membangun peradaban bangsa dengan kearifan budaya-budaya bangsa Indonesia yang luhur. Mahasiswa masa depan dituntut berpikir positif dan terbuka, agar menjadikan dirinya sebagai insan akademik yang solutif.
Kebudayaan Indonesia sudah mempunyai modal, sasaran dan rumusan, sehingga tidak sulit untuk dikembangkan. Sebagai mahasiswa yang cinta akan bangsa Idonesia yang berkemampuan untuk mengembangkan budaya-budaya lokal yang penuh dengan nilai luhur berkeharusan untuk melestarikan budaya bangsa. Kebudayaan merupakan sumber inspirasi dari kegiatan apapun. Semua bidang dalam kehidupan ini erat kaitannya dengan budaya.
Potensi mahasiswa untuk menjaga status kebudayaan yang beragam itu merupakan tahap awal dari pelestarian budaya untuk membangun peradaban bangsa. Tantunya dengan prinsip bhinneka tunggal ika sehingga ke harmonisan masyarakat yang berbeda budaya tetap terjaga. Berbagai cara untuk menjaga keharmonisan tersebut yaitu diantaranya dengan mengadakan dioalog lintas budaya yang tentunya dengan prinsip bhinneka tunggal ika.
Selanjutnya yaitu menjaga keseimbangan antar kelompok dalam masyarakat. Keseimbangan atar etnis dapat diusahakan oleh mahasiswa dengan berbagai caa seperti diskusi lintas budaya. Sehingga untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan perbedaan yang mencolok mahasiswa dapat mengbarka semangat kebangsaan yang satu yaitu bangsa Indonesia. Mahasiswa berusaha menghilangkan pola pikir etnosentrisme atau lebih dominant dari setiap penduduk
Peran Lembaga Mahasiswa
Lembaga kemahasiswaan yang mana memiliki tanggung jawab untuk membangun mahasiswa yang berintegritas dan bermoral harus mampu beradaptasi dengan kondisi masyarakat saat ini. Salah satu permasalahan yang ada di masyarakat adalah cara pandang yang salah terhadap hidup itu sendiri. Masyarakat yang kian terjepit oleh kemerosotan ekonomi maupun budaya membuat mereka tidak bisa berpikir logis dan rasional. Peran mahasiswa melalui lembaga kemahasiswaannya diharapkan mampu mengubah paradigma yang ada di masyarakat supaya lebih positif, kolaboratif, adaptif dan inovatif untuk melestarikan kearifan budaya bangsa yang luhur. Semua hal ini tentu harus dimulai dari para mahasiswa itu sendiri sebagai seorang yang mampu membuat perubahan besar dengan energy besar. Mahasiswa sangat diharapkan memiliki kemampuan untuk berubah dan menyesuaikan aktifitasnya agar lebih produktif dan solutif terhadap permasalahan masyarakat serta memberikan opini positif kepada masyarakat dan menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.
Kepemimpinan mahasiswa saat ini ditunggu oleh masyarakat, baik saat ia masih mahasiswa maupun saat ia sudah menjadi alumi perguruan tinggi. Saat menjadi mahasiswa, kepemimpinan ini bisa dilatih dan dibentuk, adalah tanggung jawab lembaga kemahasiswaan untuk mampu menciptakan sebanyak-banyaknya mahasiswa yang memiliki karakter pemimpin dengan berbagai macam aktivitas. Diharapkan regenerasi kepemimpinan bisa terbentuk sehingga akan ada banyak calon pemimpin masa depan negeri ini yang menjunjung budaya bangsa. Selain itu, mahasiswa juga bisa memimpin masyarakat dengan membangun opini yang positif dan solutif sehingga memberikan inspirasi kepada masyarakat untuk bergerak dan berubah. Mahasiswa juga bisa bergerak bersama masyarakat untuk menghadapi era globalisasi yang diiringi dengan krisis ekonomi dengan membuat usaha bersama, membuka lapangan kerja, dengan bantuan modal dan kompetensi yang dimiliki tentunya mahasiswa bisa berpikir “berapa banyak lapangan kerja yang akan saya buat setelah saya lulus”.
Serta bekerja sama dengan masyarakat untuk menghidupkan kembali budaya bangsa yang tertidur seperti gotongroyong. Gotongroyong merupakan pranata sosial yamg prnting dalam memecahkan berbagai persoalan komunitas
Kepemimpinan mahasiswa dalam bentuk membantu dalam advokasi public, seperti membela hak rakyat miskin dengan audiensi ke pemegang kebijakan, memediasi antar kelompok yang bertikai maupun memeberikan usulan kepada pemerintahan yang ada agar kebijakan yang ada bisa bijak untuk masyarakat, walaupun telah ada berbagai pengaturan sosial ekonomi untuk menjamin kehidupan penduduk. Gotong royong menunjukkan pada pelayan anggota-anggota komunitas terhadap individu atau sekelompok orang yang membutuhkan bantuan tertentu.
Semangat kepemimpinan mahasiswa dan berjuang untuk rakyat ini sangat berpengaruh terhadap idealisme seseorang setelah lulus perguruan tinggi. Seorang yang memiliki integritas dan bermoral akan terbentuk. Karena ia sudah terbiasa bekerja jujur dan rela berkorban, dimana hal ini menjadi sulit untuk ditemui di masyarakat masa kini. Karakter inilah yang akan membuat Indonesia masa depan akan mandiri, untuk itu mahasiswa harus bisa memanfaatkan waktu perkuliahan ini dengan baik untuk menyiapkan diri menjadi pemimpin bangsa di masa yang akan datang, dimulai dari bangku kuliah menuju istana merdeka.
Posisi mahasiswa sebagai middle class menyatakan peran mahasiswa untuk menjembatani antara pemerintah dengan rakyat. Mahasiswa merupakan komunitas terpelajar yang atas segala kelebihan kapasitas intelektualnya membuatnya memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat. Dengan segala kemampuan berpikir kritisnya mahasiswa seharusnya dapat menjawab kebutuhan praktis masyarakat berdasarkan realita yang ada.
Peranan mahasiswa dalam mendukung terwujdnya Indonesia yang mandiri sangatlah besar, walau secara jumlah, mahasiswa hanya 2% dari total penduduk Indonesia. Dengan segala potensi yang dimilik mahasiswa, ia mampu membuat banyak karya nyata yang bisa menginspirasi Indonesia bahkan dunia. Penyadaran peran mahasiswa sebagai iron stock, guardian of value dan agent of change adalah sebuah usaha untuk mahasiswa agar selalu menyadari posisinya untuk terusa dekat dan menjadi solusi untuk masyarakat. Penyadaran perguruan tinggi sebagai pusat peradaban yang mampu merekayasa masa depan dengan ilmu pengetahuan dan suplai wisudawan yang berintegritas dan bermoral. Saat perguruan tinggi dan mahasiswa memahami peran, posisi dan fungsi masing-masing, maka perwujudan menuju Indonesia yang Mandiri dengan peradaban yang maju dapat berjalan.
Perguruan tinggi dapat dianalogikan sebagai ’bis umum’ Sopirnya adalah rektor itu sendiri; kondekturnya itu staf pengajar; lalu, ada yg pembantu-pembantu lainnya sebagai staff tata usaha, misalnya. ”mahasiswa (penumpang) itu hanya menumpang terus turun lagi.” Jadi, sebenarnya si kondektur (staff perguruan tinggi ) itulah yang perlu memahami benar siapa sopir bis itu, memiliki SIM atau tidak, bisa mengemudikan bis dengan baik atau tidak. Mahasiswa disini punya peran yang lebih penting yaitu kesinambungan ilmu pengetahuan. Begitu mahasiswa turun, ia membawa pengalamannya selama di bis itu ke tempat lain. Kadang-kadang dia bawa ke tempat lain dan dia kembangkan. Ilmu itu memang direkam di kertas atau media lain, tapi tetaplah manusia, yaitu mahasiswa itu yang akan mengembangkan ilmu itu dan menjadi lebih bermanfaat untuk masyarakat. Mahasiswa merupakan agen perubaha bangsa yang mempunyai tugas untuk mempertahankan budaya luhur tanah air Indonesia untuk membangun peradaban bangsa yang maju. Sehingga terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar